Daftar Pejabat Kapolri

Daftar Kapolri

Foto Nama Memulai jabatan Mengakhiri jabatan Keterangan
1 Raden Said Soekanto Tjokroadimodjo.jpg Komisaris Jenderal (Pol) Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo 29 September 1945 14 Desember 1959
2 Soekarno Djojonegoro.jpg Komisaris Jenderal (Pol) Soekarno Djojonegoro 15 Desember 1959 29 Desember 1963
3 Soetjipto Danoekoesoemo.jpg Inspektur Jenderal (Pol) Soetjipto Danoekoesoemo 30 Desember 1963 8 Mei 1965
4 Soetjipto Joedodihardjo.jpg Inspektur Jenderal (Pol) Soetjipto Joedodihardjo 9 Mei 1965 8 Mei 1968
5 Hoegeng young.jpg Komisaris Jenderal (Pol) Hoegeng Imam Santoso 9 Mei 1968 2 Oktober 1971
6 Mohamad hasan - cropped.JPG Komisaris Jenderal (Pol) Moch. Hasan 3 Oktober 1971 24 Juni 1974
7 Widodo budidarmo.jpg Letnan Jenderal (Pol) Widodo Budidarmo 25 Juni 1974 25 September 1978
8 Awaludinp.jpg Letnan Jenderal (Pol) Awaluddin Djamin, MPA 26 September 1978 3 Desember 1982
9 ImgSoedjarwoAnt.jpg Letnan Jendral (Pol) Anton Sudjarwo 4 Desember 1982 6 Juni 1986
10 Mochammad Sanoesi.jpg Letnan Jenderal (Pol) Moch. Sanoesi 7 Juni 1986 19 Februari 1991
11 Kunarto.jpg Letnan Jenderal (Pol) Kunarto 20 Februari 1991 5 April 1993
12 Banurusman Astrosemitro.jpg Letnan Jenderal (Pol) Banurusman Astrosemitro 6 April 1993 14 Maret 1996
13 Dibyo Widodo.jpg Letnan Jenderal (Pol) Dibyo Widodo 15 Maret 1996 28 Juni 1998
14 Roesmanhadi.jpg Letnan Jenderal (Pol) Roesmanhadi 29 Juni 1998 3 Januari 2000
15 Rusdihardjo.jpg Letnan Jenderal (Pol) Roesdihardjo 4 Januari 2000 22 September 2000
16 Bimantoro.jpg Jenderal (Pol) Surojo Bimantoro 23 September 2000 21 Juli 2001
17 Jenderal (Pol) Chairudin Ismail 2001 7 Agustus 2001 Pejabat Sementara Kapolri
18 Dai bachtiar.jpg Jenderal (Pol) Da’i Bachtiar 29 November 2001 7 Juli 2005
19 Sutanto.jpg Jenderal (Pol) Sutanto 8 Juli 2005 30 September 2008
20 FOTO BAMBANG 1.jpg Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri 1 Oktober 2008 22 Oktober 2010
21 2010622timur pradopo-kapolda jabar.jpg Jenderal (Pol) Timur Pradopo 22 Oktober 2010 sekarang

13. Letnan Jenderal (Pol) Dibyo Widodo (15 Maret 199628 Juni 1998)

Dibyo Widodo.jpg

Jenderal Polisi Drs. Dibyo Widodo (lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, 26 Mei 1946 – meninggal di Singapura, 15 Maret 2012 pada umur 65 tahun) adalah Kapolri ke 13 yang mempertegas peran kepolisian sebagai pengayom masyarakat. Hal ini sesuai dengan latar belakang tugas yang diemban oleh lulusan PTIK tahun 1975, yang tidak bergeser dari berbagai permasalahan yang selalu muncul di masyarakat. Selama periode kepemimpinannya yang ditandai dengan akan adanya peristiwa penting bagi bangsa dan negara yakni Pemilihan Umum tahun 1997, menunjukkan bahwa ia memang dituntut oleh tugas yang memerlukan disiplin tinggi maupun kerjasama tim yang solid.

Garis kebijakan yang dikeluarkan sejak dilantik tanggal 18 Maret 1996 lalu tertuang dalam butir-butir kebijakan, yaitu: Sosialisasi Gerakan Displin National, Pembentukan/Kerjasama Tim, Konsistensi Pendekatan Hukum, Pelayanan Terbaik dan Amankan dan Sukseskan Pemilu 1997 & Sidang Umum MPR 1998, yang diarahkan untuk mewujudkan penampilan peroranjyan/individu, penampilan satuan dan pennmpilan operasional. Pengalaman lapangan yang luas termasuk daerah yang potensi konfliknya cukup tinggi semacam Surabaya dan Medan, cukup untuk memberi bekal bagi seorang pemimpin dengan beban yang tidak kecil.

Karier

Dibyo Widodo memulai kariernya di kepolisian sejak tanggal 1 Desember 1968 dengan pangkat Inspektur Polisi tingkat II. Mengawali tugas sebagai Perwira Operasi di Komres 1012 Surabaya, kemudian mempersunting Dewi Poernomo Aryanti sebagai isterinya, pasangan tersebut kini dikarunia tiga orang anak, satu diantaranya seorang puteri. Sebagai sosok yang menyusuri kariernya mulai dari jenjang bawah, putra pertama pasangan Drs Soekardi dan Toerniati Sukardi ini pernah menduduki 32 jabatan sebelum sampai puncak kariernya sebagai Kapolri. Hal ini dilalui dengan ketekunan menapaki berbagai jenjang pendidikan maupun kursus dan penataran. Pendidikan umumnya sendiri adalah sampai tingkat SMA pada tahun 1965 yang kemudian dilanjutkan dengan pendidikan di Akademi Angkatan Kepolisian (1968), Bakaloreat PTIK (1972), Doktoral PTIK (1975), Sesko ABRI Bagpol (1981), Lemhannas (1993).

Penyandang brevet Para Brimob Polri, Selam Polri, Selam Angkatan Laut, dan Pandu Udara dari Kopassus Angkatan Darat ini, punya komitmen untuk meningkatkan operasional kepolisian dalam memberantas kejahatan dengan tetap memperhatikan garis-garis kebijakan pendahulunya. Catatan prestasi operasionalnya cukup menonjol ketika bertugas di Operasi Seroja Timor Timur, namun sebenarnya lonjakan kariernya tercatat setelah menyelesaikan tugas sebagai Kapolres Deli Serdang tahun 1986 dan kemudian diangkat sebagai ADC Presiden RI sampai tahun 1992. Berturut-turut setelah itu ia menjabat sebagai Irpolda Sumut, Wakapolda Nusa Tenggara, Wakapolda Metro Jaya, Kapolda Metro Jaya clan kemudian Kapolri.

Semasa menjabat Kapolda Metro Jaya banyak langkah-langkah taktis dilakukan maupun tindakan tegas yang acapkali membuat berdebar anak buahnya karena sikapnya yang menindak segala bentuk penyimpangan di lingkungan Polri maupun dalam menghadapi gangguan kamtibmas di ibukota tak segan-segan bertindak keras tanpa pandang bulu. Untuk melayani dengan cepat segala keluhan masyarakat muncullah gagasan pembentukan satuan Unit Reaksi Cepat atau lebih dikenal dengan singkatan URC, dimana setiap ada laporan dari masyarakat, dalam tempo singkat satuan Polri segera tiba di tempat kejadian.

Satuan khusus ini didukung oleh kendaraan roda empat dan roda dua dengan anggota yang terlatih dan handal sehingga mampu menjadi tulang punggung kesatuan Polri dalam mengantisipasi setiap gangguan kamtibmas sehingga masyarakat benar-benar merasa aman dan tenteram. Kehadiran URC di TKP dengan cepat pertama-tama adalah pengamanan TKP dengan memberikan pita kuning bertanda “DILARANG MELINTAS GARIS POLISI” sehingga semua data, baik berupa sidik jari maupun bukti-bukti yang lain belum terjamah oleh orang lain. Hal ini memudahkan petugas Laboratorium Forensik dalam mengidentifikasi setiap bukti yang ada, dan dengan cepat pula dianalisis untuk mengungkap kejadian guna pengusutan selanjutnya.

Pada masa kepemimpinannya, Polda Metro jaya benar-benar dibuat tidak pernah tidur dan seolah-olah setiap jengkal tanah di wilayah Jabotabek ini selalu terdengar langkah anggota Polri berjalan seirama detak jarum jam. Sebelum menduduki tampuk pimpinan tertinggi Polri, jauh-jauh hari masyarakat telah meramalkan bahwa nanti Jenderal ini pasti segera berpindah kantor dari Semanggi ke Trunojoyo. Namun semua orang juga tak mengira akan secepat itu penyerahan tongkat komando dari Jenderal Polisi Drs. Banurusman kepada Letjen.Pol. Drs. Dibyo Widodo, sehingga masyarakat pun kembali dibuat seolah seperti kejadian yang tiba-tiba. Dengan pengalaman yang lengkap inilah Jenderal Dibyo Widodo mampu melangkah ke jenjang tertinggi di lingkungan Polri.

By denaporbrimobpapua

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s