Daftar Kepala Staf TNI Angkatan Udara

Berikut adalah daftar Kepala Staf TNI Angkatan Udara:

No Foto Nama Dari Sampai
1 Suryadarma.jpg Laksamana Udara Soerjadi Soerjadarma 9 April 1946 19 Januari 1962
2 Omardhani.jpg Laksamana Madya Udara Omar Dani 19 Januari 1962 24 November 1965
3 Kasau-herlambang.gif Laksamana Muda Sri Mulyono Herlambang 27 November 1965 31 Maret 1966
4 Rusmin nurjadin PYO.jpg Laksamana Udara Roesmin Noerjadin 31 Maret 1966 10 November 1969
5 Soewoto soekendar.gif Marsekal TNI Soewoto Sukendar 10 November 1969 28 Maret 1973
6 Ksau-saleh.gif Marsekal TNI Saleh Basarah 28 Maret 1973 4 Juni 1977
7 Ksau-ashadi.gif Marsekal TNI Ashadi Tjahjadi 4 Juni 1977 26 November 1982
8 Soekardi.gif Marsekal TNI Soekardi 26 November 1982 11 April 1986
9 Ksau-oetomo.gif Marsekal TNI Oetomo 11 April 1986 1 Maret 1990
10 Ksau-siboen.gif Marsekal TNI Siboen Dipoatmodjo 1 Maret 1990 23 Maret 1993
11 Rilo pambudi.gif Marsekal TNI Rilo Pambudi 23 Maret 1993 15 Maret 1996
12 Ksau-sutria.gif Marsekal TNI Sutria Tubagus 15 Maret 1996 3 Juli 1998
13 Hanafie Asnan.jpg Marsekal TNI Hanafie Asnan 3 Juli 1998 25 April 2002
14 Chappy hakim.jpg Marsekal TNI Chappy Hakim 25 April 2002 23 Februari 2005
15 Djoko soeyanto.jpg Marsekal TNI Djoko Suyanto 23 Februari 2005 13 Februari 2006
16 Herman Prayitno.jpg Marsekal TNI Herman Prayitno 13 Februari 2006 28 Desember 2007
17 Subandrio.jpg Marsekal TNI Soebandrio 28 Desember 2007 7 November 2009
18 100px Marsekal TNI Imam Sufaat 7 November 2009 sekarang

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kepala_Staf_TNI_Angkatan_Udara

By denaporbrimobpapua

Daftar Kepala Staf TNI Angkatan Laut

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KASAL) adalah orang dengan jabatan tertinggi dalam jajaran TNI Angkatan Laut. Berikut adalah daftar Kepala Staf TNI Angkatan Laut:

No Foto Nama Dari Sampai Jabatan terakhir
1 Laksamana III M. Pardi 1945 1946
2 Laksamana Muda Mohammad Nazir 1946 1948
3 Laksamana Madya Subiyakto 1948 1959
4 Martadinata - cropped.JPG Laksamana R.E.Martadinata 1959 1965
5 Laksamana Moeljadi 1965 1969 Deputi I Menteri/Panglima AL
6 Sudomo.jpg Laksamana Sudomo 1969 1973 Panglima Armada Maritim Kawasan Tengah
7 Laksamana R.Subono 1973 1974 Kepala Staf Umum Hankam
8 Laksamana R.S. Subijakto 1974 1977 Duta Besar RI untuk Burma
9 Waloejo soegito.jpg Laksamana Waloejo Soegito 1977 1982 Deputi KSAL
10 Laksamana M. Ramli 1982 1986 Deputi KSAL
11 RUDOLF KASENDA copy.jpg Laksamana R. Kasenda 1986 1989 Deputi Logistik KSAL
12 Laksamana M. Arifin 1989 1993 Aslog Kasum ABRI
13 Tanto kuswanto-cropped.jpg Laksamana Tanto Kuswanto 1993 1996 Wakil KSAL
14 Laksamana Arief Koeshariadi 1996 1998 Pangarmabar
15 Kabinet widodo-as.jpg Laksamana Widodo AS 1998 1999 Wakil KSAL
16 Laksamana Achmad Sucipto 17 Juli 1999 9 Oktober 2000 Wakil KSAL
17 Laksamana Indroko Sastrowiryono 9 Oktober 2000 25 April 2002 Wakil KSAL
18 Laksamana Bernard Kent Sondakh 3a.jpg Laksamana Bernard Kent Sondakh 25 April 2002 18 Februari 2005 Irjen TNI
19 Slamet Soebijanto.jpg Laksamana Slamet Soebijanto 18 Februari 2005 7 November 2007 Wakil Gubernur Lemhanas
20 Sumardjono.jpg Laksamana Sumardjono 7 November 2007 1 Juli 2008 Irjen Dephan
21 Laks-tni-tedjo-edhy.jpg Laksamana Tedjo Edhy Purdijatno 1 Juli 2008 7 November 2009 Kepala Staf Umum TNI
22 Agus Suhartono TNI AL.jpg Laksamana Agus Suhartono 7 November 2009 28 September 2010 Irjen Dephan
23 Soeparno-KSAL.jpg Laksamana Soeparno 28 September 2010 sekarang Wakil Kepala Staf Angkatan Laut

sumber ; http://id.wikipedia.org/wiki/Kepala_Staf_TNI_Angkatan_Laut

By denaporbrimobpapua

Daftar Kepala Staf TNI Angkatan Darat

Berikut adalah daftar Kepala Staf TNI Angkatan Darat:

No Foto Nama Dari Sampai Jabatan terakhir
1 Djatikusumo.jpg Kolonel Infantri G.P.H Djatikusumo 1948 1949
2 Abdul haris nasution.jpg Kolonel Infantri A.H.Nasution 1949 4 Desember 1952 Wakil Panglima Besar TNI
3 Kolonel Infantri Bambang Sugeng 5 Desember 1952 1 Mei 1955 Wakil Panglima Besar TNI
4 Kolonel Zulkifli Lubis 2 Mei 1955 26 Juni 1955 Wakil Kepala Staf Angkatan Darat
5 Kolonel Bambang Utoyo 27 Juni 1955 28 Oktober 1955 Panglima Tentara dan Teritorium (TT) II/Sriwijaya
6 Abdul haris nasution.jpg Kolonel A.H.Nasution 7 November 1955 22 Juni 1962 Mantan KSAD
7 Ahmad Yani.jpg Mayor Jenderal Ahmad Yani 23 Juni 1962 1 Oktober 1965 Deputi II Menteri/Kepala Staf AD
8 Mayor Jenderal Pranoto Reksosamudro 2 Oktober 1965 16 Oktober 1965 Asisten III Menteri/Panglima AD
9 Soeharto.jpg Mayor Jenderal Soeharto 16 Oktober 1965 Mei 1967 Pangkostrad
10 Jenderal Maraden Panggabean Mei 1967 Desember 1969 Wakil Panglima AD
11 Umarwirahadi.jpg Jenderal Umar Wirahadikusumah Desember 1969 April 1973 Wakil KSAD
12 Jenderal Surono Reksodimejo April 1973 Mei 1974 Pangkowilhan II
13 P6makmunmurod.gif Jenderal Makmun Murod Mei 1974 Januari 1978 Pangkowilhan II
14 Jenderal R. Widodo Januari 1978 April 1980 Pangkowilhan II
15 Poniman-cropped.jpg Jenderal Poniman April 1980 Maret 1983 Wakil KSAD
16 Rudini.jpg Jenderal Rudini Maret 1983 April 1986 Pangkostrad
17 Srisutrisno.jpg Jenderal Try Sutrisno Juni 1986 20 Februari 1988 Wakil KSAD
18 Edi sudrajat.jpg Jenderal Edi Sudradjat 20 Februari 1988 6 April 1993 Wakil KSAD
19 Wismoyo.jpg Jenderal Wismoyo Arismunandar 6 April 1993 13 Februari 1995 Wakil KSAD
20 RHartono.jpg Jenderal R. Hartono 13 Februari 1995 13 Juni 1997 Kassospol ABRI
21 Wiranto.jpg Jenderal Wiranto 13 Juni 1997 16 Februari 1998 Pangkostrad
22 Subagyo HS.jpg Jenderal Subagyo HS 16 Februari 1998 20 November 1999 Wakil KSAD
23 Tyasno Sudarto.jpg Jenderal Tyasno Sudarto 20 November 1999 9 Oktober 2000 Kepala BAIS
24 Endriartono sutarto2.jpg Jenderal Endriartono Sutarto 9 Oktober 2000 4 Juni 2002 Wakil KSAD
25 Ryamizard.jpg Jenderal Ryamizard Ryacudu 4 Juni 2002 18 Februari 2005 Pangkostrad
26 Djoko santoso.jpg Jenderal Djoko Santoso 18 Februari 2005 28 Desember 2007 Wakil KSAD
27 Agustadi sp.jpg Jenderal Agustadi Sasongko Purnomo 28 Desember 2007 7 November 2009 Sekretaris Menko Polhukam
28 Jenderal-TNI-George-Toisutta1.jpg Jenderal George Toisutta 7 November 2009 30 Juni 2011 Pangkostrad
29 1309398247 pramono edhie wibowo ti.jpg Jenderal Pramono Edhie Wibowo 30 Juni 2011 sekarang Pangkostrad
  • (Keterangan:Pangkat yang tercantum adalah pangkat terakhir sebelum dilantik menjadi KSAD)

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kepala_Staf_TNI_Angkatan_Darat

[sunting] Lihat pula

By denaporbrimobpapua

Daftar Panglima Tentara Nasional Indonesia

Panglima Tentara Nasional Indonesia (Panglima TNI) adalah pemimpin Tentara Nasional Indonesia.

Panglima TNI saat ini dijabat oleh Laksamana Agus Suhartono, yang yang berasal dari TNI Angkatan Laut.

Berikut adalah daftar Panglima Tentara Nasional Indonesia:

Foto Nama Dari Sampai Angkatan Keterangan
Panglima Tertinggi
Presiden Sukarno.jpg Soekarno 18 Agustus 1945 12 Maret 1967 Indonesian Presidential Emblem black.svg Presiden Republik Indonesia
Foto Nama Dari Sampai Angkatan Keterangan
Panglima Besar TKR/APRI
Soedirman.jpg Jenderal Besar Soedirman 12 November 1945 29 Januari 1950 Logo Indonesian Army.jpg TNI Angkatan Darat
Abdul haris nasution.jpg Jenderal TNI A.H. Nasution Desember 1955 Maret 1965 Logo Indonesian Army.jpg TNI Angkatan Darat Merangkap Menutama/Hankam Kasab
Panglima ABRI
Soeharto.jpg Jenderal TNI Soeharto Juni 1968 Maret 1973 Logo Indonesian Army.jpg TNI Angkatan Darat Merangkap Presiden RI, Menhankam
Jenderal TNI M. Panggabean Maret 1973 April 1978 Logo Indonesian Army.jpg TNI Angkatan Darat Merangkap Menhankam
M. Yusuf.jpg Jenderal TNI Andi M. Yusuf April 1978 28 Maret 1983 Logo Indonesian Army.jpg TNI Angkatan Darat Merangkap Menhankam
Lbmoerdani.jpg Jenderal TNI L.B. Moerdani 28 Maret 1983 27 Februari 1988 Logo Indonesian Army.jpg TNI Angkatan Darat Merangkap Pangkopkamtib
Srisutrisno.jpg Jenderal TNI Try Sutrisno 27 Februari 1988 19 Februari 1993 Logo Indonesian Army.jpg TNI Angkatan Darat
Edi sudrajat.jpg Jenderal TNI Edi Sudrajat 19 Februari 1993 21 Mei 1993 Logo Indonesian Army.jpg TNI Angkatan Darat Merangkap KSAD dan Menhankam
Feisal Tanjung.jpg Jenderal TNI Feisal Tanjung 21 Mei 1993 12 Februari 1998 Logo Indonesian Army.jpg TNI Angkatan Darat
Wiranto.jpg Jenderal TNI Wiranto 16 Februari 1998 26 Oktober 1999 Logo Indonesian Army.jpg TNI Angkatan Darat Merangkap Menhankam
Panglima TNI
Kabinet widodo-as.jpg Laksamana TNI Widodo A.S. 26 Oktober 1999 7 Juni 2002 Logo tni-al.gif TNI Angkatan Laut
Endriartono sutarto2.jpg Jenderal TNI Endriartono Sutarto 7 Juni 2002 13 Februari 2006 Logo Indonesian Army.jpg TNI Angkatan Darat Seharusnya pensiun tahun 2002 lalu mendapat perpanjangan dinas mulai 1 Mei 2002 hingga 30 April 2007 berdasarkan surat keputusan nomor 1999/II/2002
Djoko soeyanto.jpg Marsekal TNI Djoko Suyanto 13 Februari 2006 28 Desember 2007 Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara insignia.svg TNI Angkatan Udara
Djoko santoso.jpg Jenderal TNI Djoko Santoso 28 Desember 2007 28 September 2010 Logo Indonesian Army.jpg TNI Angkatan Darat
Agus Suhartono Laksamana TNI Agus Suhartono 28 September 2010 Sekarang Logo tni-al.gif TNI Angkatan Laut

Catatan

  • Sejak dipisahkannya POLRI dari ABRI per 1 April1999, istilah “Panglima ABRI” pun diganti menjadi “Panglima TNI”.
  • Presiden Megawati Soekarnoputri menjelang akhir jabatan, tepatnya pada 8 Oktober2004, dalam suratnya kepada DPR mengajukan Jenderal Ryamizard Ryacudu sebagai calon Panglima TNI menggantikan posisi Jenderal Endriartono Sutarto yang surat pengunduran dirinya telah disetujui. Namun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menggantikan Megawati bulan berikutnya, hanya sepekan setelah dilantik, mengirim surat ke DPR yang intinya mencabut surat pengajuan Presiden sebelumnya. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tak lama kemudian juga memperpanjang masa jabatan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto.
By denaporbrimobpapua

Daftar Pejabat Kapolri

Daftar Kapolri

Foto Nama Memulai jabatan Mengakhiri jabatan Keterangan
1 Raden Said Soekanto Tjokroadimodjo.jpg Komisaris Jenderal (Pol) Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo 29 September 1945 14 Desember 1959
2 Soekarno Djojonegoro.jpg Komisaris Jenderal (Pol) Soekarno Djojonegoro 15 Desember 1959 29 Desember 1963
3 Soetjipto Danoekoesoemo.jpg Inspektur Jenderal (Pol) Soetjipto Danoekoesoemo 30 Desember 1963 8 Mei 1965
4 Soetjipto Joedodihardjo.jpg Inspektur Jenderal (Pol) Soetjipto Joedodihardjo 9 Mei 1965 8 Mei 1968
5 Hoegeng young.jpg Komisaris Jenderal (Pol) Hoegeng Imam Santoso 9 Mei 1968 2 Oktober 1971
6 Mohamad hasan - cropped.JPG Komisaris Jenderal (Pol) Moch. Hasan 3 Oktober 1971 24 Juni 1974
7 Widodo budidarmo.jpg Letnan Jenderal (Pol) Widodo Budidarmo 25 Juni 1974 25 September 1978
8 Awaludinp.jpg Letnan Jenderal (Pol) Awaluddin Djamin, MPA 26 September 1978 3 Desember 1982
9 ImgSoedjarwoAnt.jpg Letnan Jendral (Pol) Anton Sudjarwo 4 Desember 1982 6 Juni 1986
10 Mochammad Sanoesi.jpg Letnan Jenderal (Pol) Moch. Sanoesi 7 Juni 1986 19 Februari 1991
11 Kunarto.jpg Letnan Jenderal (Pol) Kunarto 20 Februari 1991 5 April 1993
12 Banurusman Astrosemitro.jpg Letnan Jenderal (Pol) Banurusman Astrosemitro 6 April 1993 14 Maret 1996
13 Dibyo Widodo.jpg Letnan Jenderal (Pol) Dibyo Widodo 15 Maret 1996 28 Juni 1998
14 Roesmanhadi.jpg Letnan Jenderal (Pol) Roesmanhadi 29 Juni 1998 3 Januari 2000
15 Rusdihardjo.jpg Letnan Jenderal (Pol) Roesdihardjo 4 Januari 2000 22 September 2000
16 Bimantoro.jpg Jenderal (Pol) Surojo Bimantoro 23 September 2000 21 Juli 2001
17 Jenderal (Pol) Chairudin Ismail 2001 7 Agustus 2001 Pejabat Sementara Kapolri
18 Dai bachtiar.jpg Jenderal (Pol) Da’i Bachtiar 29 November 2001 7 Juli 2005
19 Sutanto.jpg Jenderal (Pol) Sutanto 8 Juli 2005 30 September 2008
20 FOTO BAMBANG 1.jpg Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri 1 Oktober 2008 22 Oktober 2010
21 2010622timur pradopo-kapolda jabar.jpg Jenderal (Pol) Timur Pradopo 22 Oktober 2010 sekarang

13. Letnan Jenderal (Pol) Dibyo Widodo (15 Maret 199628 Juni 1998)

Dibyo Widodo.jpg

Jenderal Polisi Drs. Dibyo Widodo (lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, 26 Mei 1946 – meninggal di Singapura, 15 Maret 2012 pada umur 65 tahun) adalah Kapolri ke 13 yang mempertegas peran kepolisian sebagai pengayom masyarakat. Hal ini sesuai dengan latar belakang tugas yang diemban oleh lulusan PTIK tahun 1975, yang tidak bergeser dari berbagai permasalahan yang selalu muncul di masyarakat. Selama periode kepemimpinannya yang ditandai dengan akan adanya peristiwa penting bagi bangsa dan negara yakni Pemilihan Umum tahun 1997, menunjukkan bahwa ia memang dituntut oleh tugas yang memerlukan disiplin tinggi maupun kerjasama tim yang solid.

Garis kebijakan yang dikeluarkan sejak dilantik tanggal 18 Maret 1996 lalu tertuang dalam butir-butir kebijakan, yaitu: Sosialisasi Gerakan Displin National, Pembentukan/Kerjasama Tim, Konsistensi Pendekatan Hukum, Pelayanan Terbaik dan Amankan dan Sukseskan Pemilu 1997 & Sidang Umum MPR 1998, yang diarahkan untuk mewujudkan penampilan peroranjyan/individu, penampilan satuan dan pennmpilan operasional. Pengalaman lapangan yang luas termasuk daerah yang potensi konfliknya cukup tinggi semacam Surabaya dan Medan, cukup untuk memberi bekal bagi seorang pemimpin dengan beban yang tidak kecil.

Karier

Dibyo Widodo memulai kariernya di kepolisian sejak tanggal 1 Desember 1968 dengan pangkat Inspektur Polisi tingkat II. Mengawali tugas sebagai Perwira Operasi di Komres 1012 Surabaya, kemudian mempersunting Dewi Poernomo Aryanti sebagai isterinya, pasangan tersebut kini dikarunia tiga orang anak, satu diantaranya seorang puteri. Sebagai sosok yang menyusuri kariernya mulai dari jenjang bawah, putra pertama pasangan Drs Soekardi dan Toerniati Sukardi ini pernah menduduki 32 jabatan sebelum sampai puncak kariernya sebagai Kapolri. Hal ini dilalui dengan ketekunan menapaki berbagai jenjang pendidikan maupun kursus dan penataran. Pendidikan umumnya sendiri adalah sampai tingkat SMA pada tahun 1965 yang kemudian dilanjutkan dengan pendidikan di Akademi Angkatan Kepolisian (1968), Bakaloreat PTIK (1972), Doktoral PTIK (1975), Sesko ABRI Bagpol (1981), Lemhannas (1993).

Penyandang brevet Para Brimob Polri, Selam Polri, Selam Angkatan Laut, dan Pandu Udara dari Kopassus Angkatan Darat ini, punya komitmen untuk meningkatkan operasional kepolisian dalam memberantas kejahatan dengan tetap memperhatikan garis-garis kebijakan pendahulunya. Catatan prestasi operasionalnya cukup menonjol ketika bertugas di Operasi Seroja Timor Timur, namun sebenarnya lonjakan kariernya tercatat setelah menyelesaikan tugas sebagai Kapolres Deli Serdang tahun 1986 dan kemudian diangkat sebagai ADC Presiden RI sampai tahun 1992. Berturut-turut setelah itu ia menjabat sebagai Irpolda Sumut, Wakapolda Nusa Tenggara, Wakapolda Metro Jaya, Kapolda Metro Jaya clan kemudian Kapolri.

Semasa menjabat Kapolda Metro Jaya banyak langkah-langkah taktis dilakukan maupun tindakan tegas yang acapkali membuat berdebar anak buahnya karena sikapnya yang menindak segala bentuk penyimpangan di lingkungan Polri maupun dalam menghadapi gangguan kamtibmas di ibukota tak segan-segan bertindak keras tanpa pandang bulu. Untuk melayani dengan cepat segala keluhan masyarakat muncullah gagasan pembentukan satuan Unit Reaksi Cepat atau lebih dikenal dengan singkatan URC, dimana setiap ada laporan dari masyarakat, dalam tempo singkat satuan Polri segera tiba di tempat kejadian.

Satuan khusus ini didukung oleh kendaraan roda empat dan roda dua dengan anggota yang terlatih dan handal sehingga mampu menjadi tulang punggung kesatuan Polri dalam mengantisipasi setiap gangguan kamtibmas sehingga masyarakat benar-benar merasa aman dan tenteram. Kehadiran URC di TKP dengan cepat pertama-tama adalah pengamanan TKP dengan memberikan pita kuning bertanda “DILARANG MELINTAS GARIS POLISI” sehingga semua data, baik berupa sidik jari maupun bukti-bukti yang lain belum terjamah oleh orang lain. Hal ini memudahkan petugas Laboratorium Forensik dalam mengidentifikasi setiap bukti yang ada, dan dengan cepat pula dianalisis untuk mengungkap kejadian guna pengusutan selanjutnya.

Pada masa kepemimpinannya, Polda Metro jaya benar-benar dibuat tidak pernah tidur dan seolah-olah setiap jengkal tanah di wilayah Jabotabek ini selalu terdengar langkah anggota Polri berjalan seirama detak jarum jam. Sebelum menduduki tampuk pimpinan tertinggi Polri, jauh-jauh hari masyarakat telah meramalkan bahwa nanti Jenderal ini pasti segera berpindah kantor dari Semanggi ke Trunojoyo. Namun semua orang juga tak mengira akan secepat itu penyerahan tongkat komando dari Jenderal Polisi Drs. Banurusman kepada Letjen.Pol. Drs. Dibyo Widodo, sehingga masyarakat pun kembali dibuat seolah seperti kejadian yang tiba-tiba. Dengan pengalaman yang lengkap inilah Jenderal Dibyo Widodo mampu melangkah ke jenjang tertinggi di lingkungan Polri.

By denaporbrimobpapua

Jenderal Hoegeng Imam Santoso

Dia masuk pendidikan HIS pada usia enam tahun, kemudian melanjutkan ke MULO (1934) dan menempuh sekolah menengah di AMS Westers Klasiek (1937). Setelah itu, dia belajar ilmu hukum di Rechts Hoge School Batavia tahun 1940. Sewaktu pendudukan Jepang, dia mengikuti latihan kemiliteran Nippon (1942) dan Koto Keisatsu Ka I-Kai (1943). Baru dia diangkat menjadi Wakil Kepala Polisi Seksi II Jomblang Semarang (1944), Kepala Polisi Jomblang (1945), dan Komandan Polisi Tentara Laut Jawa Tengah (1945-1946). Kemudian mengikuti pendidikan Polisi Akademi dan bekerja di bagian Purel, Jawatan Kepolisian Negara.

Mas Hoegeng di luar kerja terkenal dengan kelompok pemusik Hawaii, The Hawaiian Seniors. Selain ikut menyanyi juga memainkan ukulele. Sering terdengar di Radio Elshinta dengan banyolan khas bersama Mas Yos.

Banyak hal terjadi selama kepemimpinan Kapolri Hoegeng Iman Santoso. Pertama, Hoegeng melakukan pembenahan beberapa bidang yang menyangkut Struktur Organisasi di tingkat Mabes Polri. Hasilnya, struktur yang baru lebih terkesan lebih dinamis dan komunikatif. Kedua, adalah soal perubahan nama pimpinan polisi dan markas besarnya. Berdasarkan Keppres No.52 Tahun 1969, sebutan Panglima Angkatan Kepolisian RI (Pangak) diubah menjadi Kepala Kepolisian RI (Kapolri). Dengan begitu, nama Markas Besar Angkatan Kepolisian pun berubah menjadi Markas Besar Kepolisian (Mabak).

Perubahan itu membawa sejumlah konsekuensi untuk beberapa instansi yang berada di Kapolri. Misalnya, sebutan Panglima Daerah Kepolisian (Pangdak) menjadi Kepala Daerah Kepolisian RI atau Kadapol. Demikian pula sebutan Seskoak menjadi Seskopol. Di bawah kepemimpinan Hoegeng peran serta Polri dalam peta organisasi Polisi Internasional, International Criminal Police Organization (ICPO), semakin aktif. Hal itu ditandai dengan dibukanya Sekretariat National Central Bureau (NCB) Interpol di Jakarta.

Tahun 1950, Hoegeng mengikuti Kursus Orientasi di Provost Marshal General School pada Military Police School Port Gordon, George, Amerika Serikat.  Dari situ, dia menjabat Kepala DPKN Kantor Polisi Jawa Timur di Surabaya (1952). Lalu menjadi Kepala Bagian Reserse Kriminil Kantor Polisi Sumatera Utara (1956) di Medan. Tahun 1959, mengikuti pendidikan Pendidikan brimob dan menjadi seorang Staf Direktorat II Mabes Kepolisian Negara (1960), Kepala Jawatan Imigrasi (1960), Menteri luran Negara (1965), dan menjadi Menteri Sekretaris Kabinet Inti tahun 1966. Setelah Hoegeng pindah ke markas Kepolisian Negara kariernya terus menanjak. Di situ, dia menjabat Deputi Operasi Pangak (1966), dan Deputi Men/Pangak Urusan Operasi juga masih dalam 1966. Terakhir, pada 5 Mei 1968, Hoegeng diangkat menjadi Kepala Kepolisian Negara (tahun 1969, namanya kemudian berubah menjadi Kapolri), menggantikan Soetjipto Joedodihardjo. Hoegeng mengakhiri masa jabatannya pada tanggal 2 Oktober 1971, dan digantikan oleh Drs. Mohammad Hasan.  Atas semua pengabdiannya kepada negara, Hoegeng Imam Santoso telah menerima sejumlah tanda jasa,

  • Bintang Gerilya
  • Bintang Dharma
  • Bintang Bhayangkara I
  • Bintang Kartika Eka Paksi I
  • Bintang Jalasena I
  • Bintang Swa Buana Paksa I
  • Satya Lencana Sapta Marga
  • Satya Lencana Perang Kemerdekaan (I dan II)
  • Satya Lencana Peringatan Kemerdekaan
  • Satya Lencana Prasetya Pancawarsa
  • Satya Lencana Dasa Warsa
  • Satya Lencana GOM I
  • Satya Lencana Yana Utama
  • Satya Lencana Penegak
  • Satya Lencana Ksatria Tamtama.

Sumber  : wikipedia.org

By denaporbrimobpapua

Mengenal DVI (Disaster Victim Identification)Polri

Tingginya tuntutan masyarakat terhadap kepastian hukum dan hak asasi manusia serta makin meningkatnya ancaman teror bom dan bencana yang pada saat ini dapat terjadi setiap saat dan merupakan tantangan yang akan dihadapi Polri di masa mendatang, sehingga di dalam mengantisipasi hal tersebut di atas Polri dituntut mempunyai kemampuan yang memerlukan dukungan ilmu pengetahuan dan tehnologi dari berbagai disiplin ilmu Kedokteran Kepolisian seperti tercantum di dalam Undang-Undang Kepolisian Nomor 2 Tahun 2002 adalah merupakan upaya penerapan ilmu pengetahuan dan tehnologi kedokteran untuk kepentingan pelaksanaan tugas operasional kepolisian yang perlu dikembangkan secara optimal dalam mengantisipasi tuntutan masyarakat yang semakin tinggi.

Salah satu bentuk  kemampuan dari Kedokteran Kepolisian dalam kepentingan pelaksanaan terhadap tugas-tugas operasional kepolisian adalah Disaster Victim Identification (DVI).

DVI adalah suatu prosedur yang telah ditentukan untuk mengidentifikasi korban (mati ) secara ilmiah dalam sebuah insiden atau bencana masal berbasarkan Protokol INTERPOL. merupakan suatu prosedur yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan hasilnya kepada masyarakat dan hukum.

  • Dapat merupakan bagian dari suatu investigasi
  • Dapat bermanfaat dalam merekontruksi tentang sebab bencana
  • Diperlukan untuk proses identifikasi positif sehingga segala kepentingan hukum yang menyangkut kematian seseorang dapat terselesaikan, misalnya yang menyangkut kepentingan civil legal aspect (asuransi, warisan, status, dll).
  • Diperlukan karena pada banyak kasus identifikasi secara visual tidak dapat diterapkan karena kondisi korban yang sudah rusak tidak mungkin lagi dikenali.

Dasar Identifikasi dalam DVI:

1. Dasar Primer / Primary Identifier

    A. Sidik Jari/ Fingerprint

    B. Hasil Pemeriksaan Gigi Geligi/ Dental Record

    C. DNA

2.Dasar Skunder/ Secondary Identifier

   A.Barang kepemilikan/ Property

   B.Data medis/ Medical

Struktur Organisasi DVI Propinsi

Penasehat :

1. Gubernur

2. Kapolda

Ketua         :   Kabiddokkes Polda

Wakil ketua   :   Kadinkes Propinsi

Sekretaris 1   :   Kasubid Dukkes Biddokkes Polda

Sekretaris 2   :   Dir.RSUD Propinsi

Seksi Operasi : Kaur Dokpol Biddokkes Polda

Dalam rangka optimalisasi peran dukungan Kedokteran Kepolisian dan juga sebagai upaya perwujudan pelaksanaan kegiatan Kedokteran Kepolisian yang profesional serta meningkatkan kinerja personil Polri dengan intansi terkait lainnya di dalam melaksanakan kegiatan khususnya.

Operasi DVI Dibagi 5 phase:

1.    TKP

2.    Post Mortem

3.    Ante Mortem

4.    Rekonsiliasi

5.    analisa dan evaluasi (debriefing)

Pada pelatihan  DVI fase I ,  ketua tim operasi mendapat telepon dari penguasa wilayah bahwa ada kejadian bom di Dokkes yang memakan korban jiwa, kemudian tim DVI menuju TKP yang sudah diberi police line dan sudah disterilkan oleh tim Gegana,  ketua Tim DVI berkoordinasi pada penguasa setempat, melihat lokasi dan menentukan sketsa, baru tim melakukan griding , flaging, labeling, charting, evakuasi jenasah ke dalam kantung janasah, koordinasi dengan unit post mortem untuk proses DVI fase II.

By denaporbrimobpapua

SEJARAH POLRI

Zaman Hindia Belanda

Kedudukan, tugas, fungsi, organisasi, hubungan dan tata cara kerja kepolisian pada zaman Hindia Belanda tentu diabdikan untuk kepentingan pemerintah kolonial. Sampai jatuhnya Hindia Belanda, kepolisian tidak pernah sepenuhnya di bawah Departemen Dalam Negeri. Di Departemen Dalam Negeri memang berkantor “Hoofd van de Dienst der Algemene Politie” yang hanya bertugas di bidang administrasi/pembinaan, seperti kepegawaian, pendidikan SPN (Sekolah Polisi Negeri di Sukabumi), dan perlengkapan kepolisian.

Wewenang operasional kepolisian ada pada residen yang dibantu asisten residen. Rechts politie dipertanggungjawabkan pada procureur generaal (jaksa agung). Pada masa Hindia Belanda terdapat bermacam-macam bentuk kepolisian, seperti veld politie (polisi lapangan) , stands politie (polisi kota), cultur politie (polisi pertanian), bestuurs politie (polisi pamong praja), dan lain-lain.

Sejalan dengan administrasi negara waktu itu, pada kepolisian juga diterapkan pembedaan jabatan bagi bangsa Belanda dan pribumi. Pada dasarnya pribumi tidak diperkenankan menjabat hood agent (bintara), inspekteur van politie, dan commisaris van politie. Untuk pribumi selama menjadi agen polisi diciptakan jabatan seperti mantri polisi, asisten wedana, dan wedana polisi. Demikian pula dalam praktek peradilan pidana terdapat perbedaan kandgerecht dan raad van justitie.

Zaman Pendudukan Jepang

Pada masa pendudukan Jepang 1942-1945, pemerintahan kepolisan Jepang membagi Indonesia dalam dua lingkungan kekuasaan, yaitu:
1. Sumatera, Jawa, dan Madura dikuasai oleh Angkatan Darat Jepang.
2. Indonesia bagian timur dan Kalimantan dikuasai Angkatan Laut Jepang.

Dalam masa ini banyak anggota kepolisian bangsa Indonesia menggantikan kedudukan dan kepangkatan bagi bangsa Belanda sebelumnya. Pusat kepolisian di Jakarta dinamakan keisatsu bu dan kepalanya disebut keisatsu elucho. Kepolisian untuk Jawa dan Madura juga berkedudukan di Jakarta, untuk Sumatera berkedudukan di Bukittinggi, Indonesia bagian timur berkedudukan di Makassar, dan Kalimantan berkedudukan di Banjarmasin.

Tiap-tiap kantor polisi di daerah meskipun dikepalai oleh seorang pejabat kepolisian bangsa Indonesia, tapi selalu didampingi oleh pejabat Jepang yang disebut sidookaan yang dalam praktek lebih berkuasa dari kepala polisi.

Beda dengan zaman Hindia Belanda yang menganut HIR, pada akhir masa pendudukan Jepang yang berwenang menyidik hanya polisi dan polisi juga memimpin organisasi yang disebut keibodan (semacam hansip).

Zaman Revolusi Fisik

Tidak lama setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, pemerintah militer Jepang membubarkan Peta dan Gyu-Gun, sedangkan polisi tetap bertugas, termasuk waktu Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Secara resmi kepolisian menjadi kepolisian Indonesia yang merdeka.

Inspektur Kelas I (Letnan Satu) Polisi Mochammad Jassin, Komandan Polisi di Surabaya, pada tanggal 21 Agustus 1945 memproklamasikan kedudukan polisi sebagai Polisi Republik Indonesia menyusul dibentuknya Badan Kepolisian Negara (BKN) oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tanggal 19 Agustus 1945. Pada 29 September 1945 Presiden RI melantik Kepala Kepolisian RI (Kapolri) pertama Jenderal Polisi R.S. Soekanto. Adapun ikrar Polisi Istimewa tersebut berbunyi:
“Oentoek bersatoe dengan rakjat dalam perdjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agoestoes 1945, dengan ini menyatakan Poelisi Istimewa sebagai Poelisi Repoeblik Indonesia.”

Kepolisian Pasca Proklamasi

Setelah proklamasi, tentunya tidak mungkin mengganti peraturan perundang-undangan, karena masih diberlakukan peraturan perundang-undangan Hindia Belanda, termasuk mengenai kepolisian, seperti tercantum dalam peraturan peralihan UUD 1945.

Tanggal 1 Juli 1946 dengan Ketetapan Pemerintah No. 11/SD/1946 dibentuk Djawatan Kepolisian Negara yang bertanggung jawab langsung kepada perdana menteri. Semua fungsi kepolisian disatukan dalam Jawatan Kepolisian Negara yang memimpin kepolisian di seluruh tanah air. Dengan demikian lahirlah Kepolisian Nasional Indonesia yang sampai hari ini diperingati sebagai Hari Bhayangkara.

Hal yang menarik, saat pembentukan Kepolisian Negara tahun 1946 adalah jumlah anggota Polri sudah mencapai 31.620 personel, sedang jumlah penduduk saat itu belum mencapai 60 juta jiwa. Dengan demikian “police population ratio” waktu itu sudah 1:500. (Pada 2001, dengan jumlah penduduk 210 juta jiwa, jumlah polisi hanya 170 ribu personel, atau 1:1.300)

Sebagai bangsa dan negara yang berjuang mempertahankan kemerdekaan maka Polri di samping bertugas sebagai penegak hukum juga ikut bertempur di seluruh wilayah RI. Polri menyatakan dirinya “combatant” yang tidak tunduk pada Konvensi Jenewa. Polisi Istimewa diganti menjadi Mobile Brigade, sebagai kesatuan khusus untuk perjuangan bersenjata, seperti dikenal dalam pertempuran 10 November di Surabaya, di front Sumatera Utara, Sumatera Barat, penumpasan pemberontakan PKI di Madiun, dan lain-lain.

Pada masa kabinet presidential, pada tanggal 4 Februari 1948 dikeluarkan Tap Pemerintah No. 1/1948 yang menetapkan bahwa Polri dipimpin langsung oleh presiden/wakil presiden dalam kedudukan sebagai perdana menteri/wakil perdana menteri.

Pada masa revolusi fisik, Kapolri Jenderal Polisi R.S. Soekanto telah mulai menata organisasi kepolisian di seluruh wilayah RI. Pada Pemerintahan Darurat RI (PDRI) yang diketuai Mr. Sjafrudin Prawiranegara berkedudukan di Sumatera Tengah, Jawatan Kepolisian dipimpin KBP Umar Said (tanggal 22 Desember 148).

Zaman RIS

Hasil Konferensi Meja Bundar antara Indonesia dan Belanda dibentuk Republik Indonesia Serikat (RIS), maka R.S. Sukanto diangkat sebagai Kepala Jawatan Kepolisian Negara RIS dan R. Sumanto diangkat sebagai Kepala Kepolisian Negara RI berkedudukan di Yogyakarta.

Dengan Keppres RIS No. 22 tahun 1950 dinyatakan bahwa Jawatan Kepolisian RIS dalam kebijaksanaan politik polisional berada di bawah perdana menteri dengan perantaraan jaksa agung, sedangkan dalam hal administrasi pembinaan, dipertanggungjawabkan pada menteri dalam negeri.

Umur RIS hanya beberapa bulan. Sebelum dibentuk Negara Kesatuan RI pada tanggal 17 Agustus 1950, pada tanggal 7 Juni 1950 dengan Tap Presiden RIS No. 150, organisasi-organisasi kepolisian negara-negara bagian disatukan dalam Jawatan Kepolisian Indonesia. Dalam peleburan tersebut disadari adanya kepolisian negara yang dipimpin secara sentral, baik di bidang kebijaksanaan siasat kepolisian maupun administratif, organisatoris.

Zaman Demokrasi Parlementer

Dengan dibentuknya negara kesatuan pada 17 Agustus 1950 dan diberlakukannya UUDS 1950 yang menganut sistem parlementer, Kepala Kepolisian Negara tetap dijabat R.S. Soekanto yang bertanggung jawab kepada perdana menteri/presiden.

Waktu kedudukan Polri kembali ke Jakarta, karena belum ada kantor digunakan bekas kantor Hoofd van de Dienst der Algemene Politie di Gedung Departemen Dalam Negeri. Kemudian R.S. Soekanto merencanakan kantor sendiri di Jalan Trunojoyo 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dengan sebutan Markas Besar Djawatan Kepolisian Negara RI (DKN) yang menjadi Markas Besar Kepolisian sampai sekarang. Ketika itu menjadi gedung perkantoran termegah setelah Istana Negara.

Sampai periode ini kepolisian berstatus tersendiri antara sipil dan militer yang memiliki organisasi dan peraturan gaji tersendiri. Anggota Polri terorganisir dalam Persatuan Pegawai Polisi Republik Indonesia (P3RI) tidak ikut dalam Korpri, sedangkan bagi istri polisi semenjak zaman revolusi sudah membentuk organisasi yang sampai sekarang dikenal dengan nama Bhayangkari tidak ikut dalam Dharma Wanita ataupun Dharma Pertiwi. Organisasi P3RI dan Bhayangkari ini memiliki ketua dan pengurus secara demokratis dan pernah ikut Pemilu 1955 yang memenangkan kursi di Konstituante dan Parlemen. Waktu itu semua gaji pegawai negeri berada di bawah gaji angkatan perang, namun P3RI memperjuangkan perbaikan gaji dan berhasil melahirkan Peraturan Gaji Polisi (PGPOL) di mana gaji Polri relatif lebih baik dibanding dengan gaji pegawai negeri lainnya (mengacu standar PBB).

Dalam periode demokrasi parlementer ini perdana menteri dan kabinet berganti rata-rata kurang satu tahun. Polri yang otonom di bawah perdana menteri membenahi organisasi dan administrasi serta membangun laboratorium forensik, membangun Polisi Perairan (memiliki kapal polisi berukuran 500 ton) dan juga membangun Polisi Udara serta mengirim ratusan perwira Polri belajar ke luar negeri, terutama ke Amerika Serikat.

Zaman Demkrasi Terpimpin

Dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, setelah kegagalan Konstituante, Indonesia kembali ke UUD 1945, namun dalam pelaksanaannya kemudian banyak menyimpang dari UUD 1945. Jabatan Perdana Menteri (Alm. Ir. Juanda) diganti dengan sebutan Menteri Pertama, Polri masih tetap di bawah pada Menteri Pertama sampai keluarnya Keppres No. 153/1959, tertanggal 10 Juli di mana Kepala Kepolisian Negara diberi kedudukan Menteri Negara ex-officio.

Pada tanggal 13 Juli 1959 dengan Keppres No. 154/1959 Kapolri juga menjabat sebagai Menteri Muda Kepolisian dan Menteri Muda Veteran. Pada tanggal 26 Agustus 1959 dengan Surat Edaran Menteri Pertama No. 1/MP/RI1959, ditetapkan sebutan Kepala Kepolisian Negara diubah menjadi Menteri Muda Kepolisian yang memimpin Departemen Kepolisian (sebagai ganti dari Djawatan Kepolisian Negara).

Waktu Presiden Soekarno menyatakan akan membentuk ABRI yang terdiri dari Angkatan Perang dan Angkatan Kepolisian, R.S. Soekanto menyampaikan keberatannya dengan alasan untuk menjaga profesionalisme kepolisian. Pada tanggal 15 Desember 1959 R.S. Soekanto mengundurkan diri setelah menjabat Kapolri/Menteri Muda Kepolisian, sehingga berakhirlah karir Bapak Kepolisian RI tersebut sejak 29 September 1945 hingga 15 Desember 1959.

Dengan Tap MPRS No. II dan III tahun 1960 dinyatakan bahwa ABRI terdiri atas Angkatan Perang dan Polisi Negara. Berdasarkan Keppres No. 21/1960 sebutan Menteri Muda Kepolisian ditiadakan dan selanjutnya disebut Menteri Kepolisian Negara bersama Angkatan Perang lainnya dan dimasukkan dalam bidang keamanan nasional.

Tanggal 19 Juni 1961, DPR-GR mengesahkan UU Pokok kepolisian No. 13/1961. Dalam UU ini dinyatakan bahwa kedudukan Polri sebagai salah satu unsur ABRI yang sama sederajat dengan TNI AD, AL, dan AU.

Dengan Keppres No. 94/1962, Menteri Kapolri, Menteri/KASAD, Menteri/KASAL, Menteri/KSAU, Menteri/Jaksa Agung, Menteri Urusan Veteran dikoordinasikan oleh Wakil Menteri Pertama bidang pertahanan keamanan. Dengan Keppres No. 134/1962 menteri diganti menjadi Menteri/Kepala Staf Angkatan Kepolisian (Menkasak).

Kemudian Sebutan Menkasak diganti lagi menjadi Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian (Menpangak) dan langsung bertanggung jawab kepada presiden sebagai kepala pemerintahan negara. Dengan Keppres No. 290/1964 kedudukan, tugas, dan tanggung jawab Polri ditentukan sebagai berikut:
a. Alat Negara Penegak Hukum.
b. Koordinator Polsus.
c. Ikut serta dalam pertahanan.
d. Pembinaan Kamtibmas.
e. Kekaryaan.
f. Sebagai alat revolusi.

Berdasarkan Keppres No. 155/1965 tanggal 6 Juli 1965, pendidikan AKABRI disamakan bagi Angkatan Perang dan Polri selama satu tahun di Magelang. Sementara di tahun 1964 dan 1965, pengaruh PKI bertambah besar karena politik NASAKOM Presiden Soekarno, dan PKI mulai menyusupi mempengaruhi sebagian anggota ABRI dari keempat angkatan.

Zaman Orde Baru

Karena pengalaman yang pahit dari peristiwa G30S/PKI yang mencerminkan tidak adanya integrasi antar unsur-unsur ABRI, maka untuk meningkatkan integrasi ABRI, tahun 1967 dengan SK Presiden No. 132/1967 tanggal 24 Agustus 1967 ditetapkan Pokok-Pokok Organisasi dan Prosedur Bindang Pertahanan dan Keamanan yang menyatakan ABRI merupakan bagian dari organisasi Departemen Hankam meliputi AD, AL, AU , dan AK yang masing-masing dipimpin oleh Panglima Angkatan dan bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas dan kewajibannya kepada Menhankam/Pangab. Jenderal Soeharto sebagai Menhankam/Pangab yang pertama.

Setelah Soeharto dipilih sebagai presiden pada tahun 1968, jabatan Menhankam/Pangab berpindah kepada Jenderal M. Panggabean. Kemudian ternyata betapa ketatnya integrasi ini yang dampaknya sangat menyulitkan perkembangan Polri yang secara universal memang bukan angkatan perang.

Pada tahun 1969 dengan Keppres No. 52/1969 sebutan Panglima Angkatan Kepolisian diganti kembali sesuai UU No. 13/1961 menjadi Kepala Kepolisian Negara RI, namun singkatannya tidak lagi KKN tetapi Kapolri. Pergantian sebutan ini diresmikan pada tanggal 1 Juli 1969.

Pada HUT ABRI tanggal 5 Oktober 1969 sebutan Panglima AD, AL, dan AU diganti menjadi Kepala Staf Angkatan. Pada kesempatan tersebut anggota AL danAU memakai tanda TNI di kerah leher, sedangkan Polri memakai tanda Pol. Maksudnya untuk menegaskan perbedaan antara Angkatan Perang dan Polisi.

Zaman Reformasi

Adanya Ketetapan MPR No. X/MPR/1998 tentang Reformasi telah melahirkan Inpres No. 2/1999 tanggal 1 April 1999 dalam era Presiden BJ Habibie yang memisahkan Polri dan TNI karena dirasakan memang terdapat perbedaan fungsi dan cara kerja dihadapkan dengan civil society. Untuk sementara, waktu itu, Polri masih diletakkan di bawah Menteri Pertahanan Keamanan. Akan tetapi, karena pada waktu itu Menteri dan Panglima TNI dijabat orang yang sama (Jenderal TNI Wiranto), maka praktis pemisahan tidak berjalan efektif.

Sementara peluang yang lain adalah Ketetapan MPR No. VI/2000 tanggal 18 Agustus 2000 yang menetapkan secara nyata adanya pemisahan Polri dan TNI, yang selanjutnya diikuti pula oleh Ketetapan MPR No. VII/2000 yang mengatur peran TNI dan Polri secara tegas.

Sementara itu, sebelum ketetapan-ketetapan tersebut di atas digulirkan, pada HUT Bhayangkara 1 Juli 2000 dikeluarkan Keppres No. 89/2000 yang melepaskan Polri dari Dephan dan menetapkan langsung Polri di bawah presiden.

Kendati Keppres ini sering disoroti sebagai bahaya karena Kepolisian akan digunakan sewenang-wenang oleh presiden, naun sesungguhnya ia masih bisa dikontrol oleh DPR dan LKN (Lembaga Kepolisian Nasinal) yang merupakan lembaga independen.

Adapun tantangan yang dihadapi Polri dewasa ini dan ke depan, terutama adalah perubahan paradigma pemolisian yang sesuai dengan paradigma baru penegakan hukum yang lebih persuasif di negara demokratis, di mana hukum dan polisi tidaklah tampil dengan mengumbar ancaman-ancaman hukum yang represif dan kadang kala menjebak rakyat, melainkan tampil lebih simpatik, ramah, dan familier.

Memberi peluang tumbuhnya dinamika masyarakat dalam menyelesaikan konfliknya sampai pada taraf tertentu. Memberi peluang berfungsi dan kuatnya pranata-pranata sosial dalam masyarakat seperti adanya perasaan malu, perasaan bersalah, dan perasaan takut bila ia melakukan penyimpangan, sehingga mendorong warga patuh pada hukum secara alamiah.

By denaporbrimobpapua

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.
By denaporbrimobpapua